by

Tujuh Hari di Ruang Isolasi Covid-19 ( Part 1)

 Mataram. Suaragririmenang.com – Sebuah kalimat bijak yang saya temukan ketika browsing diinternet mengawali tulisan saya ini,

“Setiap detik dalam hidup adalah perjalanan setiap perjalanan adalah pelajaran”.

Tujuh hari di ruang isolasi Covid-19,  ruang Otak Kokok RSUP Provinsi NTB untuk menemani ayahanda tercinta Drs. H. L. Mudjitahid adalah perjalanan yang sangat berharga dalam hidup saya dan tidak akan pernah terlupakan.

Sabtu malam tanggal 25 Juli 2020 adalah awal perjalanan saya, setelah membaca hasil foto torak almarhum bapak. Walaupun bukan dokter, tapi begitu membaca hasilnya yang menyebutkan tampak bercak dari tengah sampai bawah, dan gambaran pnemonia berat, saya menduga kuat ini adalah tanda Covid-19 sudah menginfeksi ayahanda.

Ini adalah jawaban yang lebih dari satu minggu kami cari dari keluhan yang dirasakan oleh ayahanda sehingga harus berapa kali konsul ke dokter spesialis penyakit dalam. Melihat hasil foto torak tersebut, dan kondisi bapak yang kelihatan semakin kelelahan dan kesulitan bernafas, akhirnya jam 2 dini hari kami mencoba mengakses RSUP Provinsi NTB untuk kemungkinan beliau opname, meminta dikirimkan tenaga medis ambulance.

Memutuskan untuk opname dirumah sakit membawa konsekuensi harus ada yang mendampingi beliau, dan ini bukan sebuah pilihan yang mudah bagi kami sekeluarga. Saran dari tenaga medis sebaiknya yang mendampingi beliau usianya muda dan sehat, karena akan terus mendampingi beliau selama di dalam rumah sakit, ikut diisolasi, sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mencari keluarga yang sesuai dengan kriteria dan saran dari tenaga medis tidak mudah juga, karena saya dan saudara-saudara yang lain berusia 48 tahun keatas.

Diskusi dan proses berpikir untuk menentukan siapa yang akan mendampingi harus disudahi segera, karena ambulance dan tenaga medis berpakaian APD lengkap sudah tiba.

Bismillahirrahmanirrahim, saya sampaikan ke saudara-saudara yang lain saya akan mendampingi bapak selama di rumah sakit. Lalu saya izin pulang sebentar ke rumah untuk menyampaikan ke istri dan anak-anak, sambil menyiapkan pakaian yang diperlukan selama di rumah sakit besok. Jam 3 dini hari, Minggu, 26 Juli ambulance bergerak dari rumah ayahanda menuju di rumah sakit. Ini adalah pengalaman pertama saya menaiki ambulance. Setiba di rumah sakit RSU Provinsi langsung mengarah ke sebuah gedung yang setelah turun dari ambulance saya lihat nama ruangan ini Otak Kokok. Nama tempat yang sering saya baca dirilis harian satgas Covid-19 provinsi NTB.

Ruang ini tidak seperti bayangan saya ketika masuk ke sebuah rumah sakit pada umumnya, dimana di lobby ada pusat informasi, registrasi, parmacy dan fasilitas lainnya yang biasa ada di lobby rumah sakit. Ruang ini terlihat sepi sekali, atau mungkin karena ambulance masuk lewat pintu belakang (saya baru tahu setelah keluar dari ruang ini).

Ruang Otak Kokok ini adalah ruang rawat inap kelas 2 di RSU Provinsi NTB yang dirubah dan disiapkan menjadi ruang isolasi bagi pasien Covid-19. Alhamdulillah atas bantuan RSUP Provinsi NTB kami langsung menempati kamar 214 di ruang Otak Kokok. Biasanya pasien yang baru masuk akan diobservasi dulu di IGD dan ini akan memakan cukup lama, dan bagi pasien lansia ini akan sangat melelahkan. Setiba didalam kamar, setelah infus terpasang, oksigen untuk pernafasan juga sudah terpasang, perawat yang bertugas menyampaikan kepada saya, jadwal masuk dokter dan perawat ke kamar, dan no WA untuk berkomunikasi dengan perawat jika ada hal-hal yang bersifat emergency.

Jadwal masuk setiap hari dokter dan perawat adalah, jam 7-8, jam 11-12, jam 16-17 dan jam 21-22. Jika ada hal-hal yang sifatnya emergency diluar jam tersebut saya harus menelpon atau WA ke nomor tertera di dinding ruangan. Dokter dan perawat memantau kondisi pasien dan melalui CCTV yang terpasang disetiap ruangan.

Di kamar 214 ruang Otak Kokok yang kami tempati selama di isolasi, terdapat satu tempat tidur pasien, sofa untuk penunggu, lemari kecil untuk menyimpan pakaian, TV dan rak TV. Selain dilengkapi AC kamar ini juga dilengkapi satu unit Hepafilter yang memastikan udara diruangan ini tetap bersih dan steril.

Hari pertama, Minggu 26 Juli 2020

La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhimi.

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung”.

Dokter menyampaikan bahwa alat bantu oksigen yang sudah terpasang tidak mampu meningkatkan saturasi oksigen bapak, ketika masuk ruang isolasi pagi dinihari tadi saturasi oksigen di angka 72 hanya naik 84, saya minta kepada dokter untuk segera dipasangkan ventilator agar pernafasan ayahanda bisa kembali normal.

Petugas lab. masuk ke kamar menjelang siang, untuk melakukan swab ke bapak. Bapak sempat menanyakan apa ini, oleh petugas lab. disampaikan ini swab, beliau sempat berkomentar, oh saya di swab.

Masuk waktu dhuhur bapak, minta sholat, saya sampaikan bapak sholat sambil tidur saja ya, dan kemudian saya bimbing bapak sampai sholat selesai, sholat dhuhur dan sholat sunnat. Lalu saya tawarkan untuk makan siang, dan bapak hanya makan tiga sendok dan minum tiga teguk air.

Satu jam kemudian perawat jaga menelpon saya menyampaikan bahwa akan dilakukan tindakan intubasi, memasukkan selang pernafasan dari hidung ke paru-paru bapak yang akan dihubungkan dengan ventilator. Disampaikan juga bahwa tindakan inkubasi ini akan bisa beresiko pada jantung dan berhentinya jantung bekerja. Saya sampaikan kalau ini tindakan harus dilakukan, silahkan dilakukan dan siap menandatangani surat pernyataan.

Sekitar jam 15, dokter yang akan melakukan intubasi sudah masuk didampingi satu orang asistennya untuk melakukan anestesi, ternyata ada problem, ventilator yang sudah disiapkan ketika coba dipasang error, berapa kali dicoba error juga. Ventilator ini kemudian diganti dengam ventilator lainnya, ternyata error juga, begitu juga dengan ventilator yang ketiga. Situasi ini membuat saya panik dan menelpon adik misan yang mungkin bisa membantu agar segera bisa tersedia ventilator lainnya. Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan inkubasi dan kemudian memompa secara manual okisgen ke selang yang terpasang sembari menunggu ventilator.

Alhamdulillah setelah melalui proses yang menegangkan mengaduk-aduk emosi, ventilator terpasang dan berfungsi dengan baik. Dan dokter menyampaikan bapak akan ditidurkan, untuk membantu ventilator bekerja dengan maksimal. Dalam hati saya berkata, ini kesempatan untuk bisa istirahat, praktis tiga hari saya dalam kondisi kurang tidur karena terus menemani bapak ketika masih dirawat di rumah. Malam sekitar jam 9 hp saya berbunyi dan ada WA call dari perawat jaga yang menyampaikan hasil swab bahwa bapak positif covid-19. Hasil ini langsung saya sampaikan ke grup WA keluarga, dan kami diskusi via WA untuk menentukan langkah selanjutnya bagi keluarga terkait info hasil swab ini. Kami sepakati, besok akan dilakukan swab mandiri kepada ibu, saudara-saudara, asisten rumah tangga, yang dirasa melakukan contact tracing dengan bapak. Dan informasi mengenai status penyakit bapak dan kondisi ibu dan saudara-saudara lain disampaikan secara terbuka kepada siapa saja yang menghubungi kami baik melalui telpon ataupun WA. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya penularan, sehingga orang-orang yang pernah contact tracing dengan bapak dan kami, dapat segera melakukan tindakan pencegahan masing-masing, dan  saat ini keluarga sedang melakukan isolasi mandiri sehingga tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Bagi kami sekeluarga positif covid-19 bukan aib yang harus ditutupi, tetapi harus disampaikan kepada siapa saja yang bertanya, untuk membantu mencegah penularan pada orang lain.

Menjelang tidur saya sempat merenung, perjalanan waktu sejak dari dinihari tadi, membimbing bapak sholat, menyuapi makan dan minum, mengelus kening bapak sambil meminta bapak untuk tidur, menyelimutinya ketika beliau mengatakan kedinginan akibat demam tinggi disiang tadi, apakah ini menjadi komunikasi saya terakhir dengan bapak. Status bapak yang positif covid-19, bagaimana dengan saya yang mendampinginya dalam ruang isolasi, membuat sempat terbersit kekhwatiran dan ketakutan pada diri saya. Untuk mengatasi rasa khawatir itu, saya berseloroh pada diri dan mengasumsikan kalau saya juga sudah positif covid-19. Dan bertawaqal sepenuhnya kepada Allah SWT, dan hanya memohon perlindungan darinya.

#ceritadiruangisolasi #covid19 #part1

Catatan Lalu Anas Amrullah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed