by

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Apresiasi Gerak cepat Pemkab dan Aparat Tangani Konflik Antar Pemuda Mareje

Lombok Barat. Suaragirimenang.com
Gerak cepat Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan Aparat keamanan dalam mengatasi konflik antara pemuda di Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat diapresiasi oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Diah Pitaloka, S.Sos, M.Si. Hal tersebut disampaikan di Giri Menang Gerung, senin 23 Mei 2022 dalam Kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI Ke Pemerintah Kabupaten Lombok Barat.

Menurut Diah Pitaloka gerak cepat dari Pemkab dan aparat keamanan dapat melokalisir konflik antar pemuda dengan cepat sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Hal ini tentu sangat positif dan baik untuk ditiru daerah lain agar konflik tidak melebar. Ia mengatakan bahwa situasi damai dan rukun di mareje harus terus dipelihara karena ini bagian dari toleransi dan moderasi beragama. “Moderasi dan toleransi perlu untuk terus dipelihara agar warga masyarakat tetap rukun dan damai”ujarnya.

Seperti yang diketahui saat konflik antar kelompok pemuda dari dua dusun yang berbeda di desa mareje mulai memanas dan terjadi aksi pembakaran, Bupati Lobar, Wakil Bupati bersama Kapolres Mataram dan Ketua FKUB langsung turun ke lokasi untuk menenangkan masa. Setelah diajak berdialog masyarakat pun tenang dan kembali ke tempat masing masing. Langkah cepat dan tepat ini mampu meredam emosi dan amarah massa yang jumlahnya cukup besar.

Sementara itu anggota Komisi VIII DPR RI yang juga berasal dari Dapil NTB 2 H. Rahmat Hidayat,SH mengatakan bahwa selama ini Lombok Barat adem adem saja. Tidak pernah terdengar adanya konflik berbau sara. Karenanya ia meyakini bahwa konflik di desa mareje bukanlah konflik berbau sara namun konflik antar dua kelompok pemuda. Ia berharap agar situasi rukun dan damai di Lombok khususnya Lombok Barat dapat terus dibina dan dipelihara. Hal ini agar masyarakat dapat beraktivitas dengan baik dan tenang. “Kami meyakini bahwa Lombok Barat ini tetap aman dan rukun. Jadi mari kita jaga bersama keamanan dan kerukunan di masyarakat” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Daerah Lombok Barat DR. H. Baehaqi mengatakan bahwa konflik yang terjadi di mareje adalah konflik antar pemuda yang dipicu oleh kesalahpahaman akibat mercon dan petasan. Hal ini memicu terjadinya ketegangan dua kelompok pemuda di desa mareje yang berujung pada pembakaran 6 rumah warga pada Selasa malam, 3 Mei 2022. Menurut Sekda, satu hari pasca kejadian tersebut Pemkab Lobar bersama Kapolres Lobar dan tokoh masyarakat Lobar melakukan mediasi terhadap dua kelompok warga tersebut hingga akhirnya kedua kelompok pemuda dan warga sepakat untuk menandatangani surat kesepakatan damai antara dua kelompok pemuda. Penandatanganan dilakukan di kediaman Wakil Bupati Lobar Hj. Sumiatun.

Seteleh menandatangani surat perdamaian tersebut, Pemkab Lobar bersama TNI/Polri dan warga melakukan gotong royong untuk membersihkan puing puing 6 rumah yang rusak. Selain itu Pemkab Lobar juga menanggung biaya perbaikan 6 rumah yang rusak akibat keributan antar pemuda pada 3 mei 2022. Pada hari kamis,13 Mei 2022 Pemkab Lobar bersama Polri dan TNI memulangkan 53 warga yang menginap sementara di polres Lombok Barat. “Setelah situasi baik dan masyarakat tidak trauma lagi, Pemkab bersama Polri/TNI langsung memulangkan 53 warga yang menginap sementara Polres Lombok Barat”ujar Sekda.

Setelah warga pulang dan masyarakat kembali beraktivitas dengan baik, Pemkab bersama TNI/Polri dan Pemerintah Desa menyelenggarakan acara Gawe Rapah Rabu, 18 Mei 2022. Kegiatan ini menurut Sekda Lobar sebagai simbol dan kegiatan rekonsiliasi antar masyarakat mareje sehingga kerukunan dan kedamaian di desa mareje tetap terjalin dengan baik. Dalam kegiatan ini dilakukan pembacaan ikrar satu tundun atau satu keturunan yang dipimpin oleh Wali Paer atau tokoh adat sasak Lombok Barat H.Lalu Anggawe Nuraksi. Setelah itu dilakukan sembeq Kending “Patuh Patuh Saling Kangen” oleh Bupati, Wakil Bupati, Gubernur NTB, Kapolda NTB dan Dandrem 162 Wirabhakti. Kegiatan selanjutnya adalah makan bersama atau begibung antar warga mareje. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kebersamaan dan kerukunan antar warga masyarakat. “Masyarakat Mareje tetap rukun dan damai, tidak ada masalah. Yang terjadi adalah keributan antara pemuda namun semuanya sudah baik dan kondusif kembali yang ditandai dengan gawe rapah dan ikrar satu tundun warga mareje” ujarnya.

Kegiatan kunjungan kerja ini dihadiri oleh Wakil ketua dan anggota komisi Vlll DPR RI, Wakapolda NTB, Sekjen Kementrian Agama, Sestama BNPB, Direktur kementrian sosial, Asisten l Provinsi NTB, Anggota DPRD, Sekretaris Daerah Lobar, Anggota Forkopimda Lobar, Kakanwil kementerian Agama Provinsi NTB, Kakandepag Lobar, Ketua MUI Provinsi NTB, Ketua MUI Lobar, Ketua FKUB Lobar para camat, Tuan Guru Tokoh Agama dan tokoh masyarakat. (Diskominfotik/dea/ria)

News Feed