
Senggigi Jadi Pintu Masuk Favorit Turis Fast Boat (Drs. Agus Gunawan)
Suara Giri Menang — Kawasan pariwisata Senggigi di Kabupaten Lombok Barat kian menunjukkan geliat signifikan menjelang perhelatan akbar Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Lombok Barat, 85 persen tamu hotel di kawasan pusat Senggigi hingga Kerandangan saat ini didominasi oleh wisatawan yang datang via jalur laut menggunakan kapal cepat (fast boat).
Lonjakan arus wisatawan dari jalur laut ini dipicu oleh optimalisasi konektivitas Pelabuhan Senggigi. Frekuensi perjalanan fast boat yang melayani rute ke kawasan wisata ini meningkat tajam, dari yang sebelumnya hanya 3 perjalanan (trip), kini melonjak hingga 14 trip per hari. Dengan kapasitas rata-rata 100 penumpang per kapal, akses ini mampu mengalirkan sekitar 1.400 wisatawan setiap harinya langsung ke jantung pariwisata Lombok Barat.
Kepala Disparekrafpora Lombok Barat, Agus Gunawan saat di temui di ruang kerjanya, Selasa,(22/9), mengonfirmasikan bahwa tingginya preferensi liburan lewat jalur laut berbanding lurus dengan meroketnya tingkat keterisian akomodasi.
“Hampir 85 persen tamu hotel, baik di kawasan center maupun Kerandangan, berasal dari fast boat. Hanya sekitar 15 persen sisanya yang menggunakan jalur udara,” ujar Agus Gunawan
Ia menambahkan bahwa geliat transportasi laut ini menjadi angin segar yang langsung direspons positif oleh sektor perhotelan. Konfirmasi mengenai kenaikan jumlah wisatawan yang menginap ini juga datang dari para GM hotel di Senggigi, yang mencatat tren kunjungan selaras dengan bertambahnya kuota perjalanan kapal cepat.
“Beberapa GM juga sudah memvalidasi bahwa dengan adanya 14 trip ini, tamu yang menginap semakin meningkat,” katanya.
Lebih lanjut Agus memaparkan, jalur laut menuju Lombok Barat saat ini bertumpu pada konektivitas Pelabuhan Lembar, Gili Mas, dan Senggigi. Dari ketiga akses tersebut, Pelabuhan Senggigi dinilai paling strategis dalam menyerap pasar wisata premium. Ia pun menekankan bahwa kontribusi angka kedatangan pelancong melalui armada kapal cepat ke wilayah Senggigi tergolong sangat masif.
Pengelola hotel di kawasan pariwisata Senggigi dan Kerandangan telah mengamati pergeseran tren yang signifikan, di mana 85% konsumen hotel kini tiba menggunakan fast boat. Sisanya melalui rute bandara.
Lonjakan frekuensi pelayaran hingga 14 kali sehari ini diyakini menjadi motor penggerak baru bagi pariwisata Senggigi. Dengan daya angkut armada fast boat yang berkisar antara 150 sampai 200 orang per kapal, kawasan ini berpotensi menyerap pasokan ribuan pelancong baru setiap harinya.
Agus mengilustrasikan bahwa 14 perjalanan dengan rata-rata muatan 100 orang per armada akan menghasilkan arus 1.400 wisatawan setiap hari. Jika sebagian dari mereka memilih untuk menginap di Lombok Barat, hal ini akan secara langsung meningkatkan tingkat hunian hotel dan menggairahkan sektor pariwisata.
Kendati potensi pasarnya besar, Agus mengingatkan pelaku usaha agar tidak abai terhadap daya tampung penginapan berbintang. Menurutnya, keterbatasan jumlah kamar di segmen hotel berbintang berpotensi menjadi titik lemah saat arus wisatawan melonjak drastis demi menyaksikan ajang MotoGP 2026.
Dampak penuhnya akomodasi di sekitar sirkuit utama di Lombok Tengah membuat Senggigi menjadi wilayah penyangga utama pariwisata MotoGP. Pemesanan kamar hotel berbintang di Senggigi dilaporkan sudah berada pada kondisi padat dan sebagian besar telah full booking sejak jauh-jauh hari.
“Adapun Hotel yang sudah terkomfirmasi Full Boking adalah The Meru Sanur /Marumatta, Holiday Inn Resort, Aruna Senggigi “, ucapnya.
Kendati demikian, keyakinan besar tetap terpancar bahwa seluruh fasilitas penginapan di Kabupaten Lombok Barat akan habis dipesan sepanjang perhelatan MotoGP 2026. Dalam kaitan ini, optimalisasi jalur laut lewat Pelabuhan Senggigi diproyeksikan memegang peranan krusial sebagai pilar utama mobilisasi para wisatawan menuju destinasi tersebut.
“Saya optimistis semua akan habis pada saat MotoGP 2026,” ucapnya
Lebih lanjut ia menggarisbawahi bahwa okupansi di segmen hotel mewah atau berbintang sudah mendekati ambang batas atas. Guna mengantisipasi lonjakan yang lebih masif, ia menyatakan bahwa fokusnya kini bergeser untuk menggerakkan kembali sektor akomodasi sekunder, termasuk mengoptimalkan hotel-hotel bintang tiga yang tersedia.
“Dilihat dari akomodasi, terutama yang berbintang, sudah cukup tinggi. Karena itu mungkin nanti kita perlu menghidupkan kembali akomodasi seperti hotel bintang tiga dan lainnya,” ujarnya
Selain menawarkan fasilitas kemudahan akses makro lewat program 3A (Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi), Kabupaten Lombok Barat turut menyiapkan gelaran budaya bertajuk Senggigi Sunset Show. Langkah ini diambil dengan target memperpanjang masa tinggal (extend stay) turis di Lombok, sehingga dampak ekonomi dari ajang balap motor internasional ini tidak hanya dirasakan saat hari balapan saja. (wni)
