
Penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) antara pihak RSJPD Harapan Kita Jakarta dan Pemerintah Provinsi NTB untuk percepatan pemerataan fasilitas medis di Wilayah NTB.
Suara Giri Menang, Gerung — Tren lonjakan kasus penyakit katastropik, terutama jantung dan cerebrovascular (stroke), tengah menjadi perhatian serius di dunia medis. Menjawab tantangan tersebut, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Patut Patuh Patju (Tripat) Gerung, Kabupaten Lombok Barat, resmi melakukan langkah strategis dengan membuka fasilitas medis canggih untuk memberikan penanganan intervensi cepat bagi masyarakat.
Langkah nyata terobosan ini diresmikan melalui kegiatan proctorship kolaboratif bersama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta di Aula RSUD Tripat Lombok Barat, Jumat (18/9/2026), sebagai bentuk transfer teknologi dan keahlian medis mutakhir. Sebagai langkah konkret, RSUD Tripat memulai pendampingan untuk tindakan intervensi nonbedah tingkat dasar pada kasus jantung dan stroke.
Kolaborasi ini diperkuat dengan penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) antara pihak RSJPD Harapan Kita Jakarta dan Pemerintah Provinsi NTB demi mempercepat pemerataan fasilitas medis di wilayah tersebut.
Dukungan penuh datang dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Pj. Sekda H. Saeful Ahkam Mahfuz yang menyambut baik integrasi layanan ini. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai sebagai solusi konkret dalam memangkas jalur birokrasi rujukan medis yang selama ini membebani warga.
Dalam pernyataannya, Saeful Ahkam menegaskan bahwa RSUD Tripat kini telah mandiri. “Ini adalah solusi nyata agar masyarakat tidak perlu dirujuk jauh-jauh. Harapan kami, transfer ilmu dari tim ahli nasional ini melahirkan dokter-dokter spesialis lokal yang jauh lebih kompeten dan sigap menangani kasus kritis jantung dan stroke,” jelasnya
Saeful Ahkam menegaskan bahwa kemitraan dengan rumah sakit rujukan nasional ini sangat krusial untuk mendongkrak kapasitas SDM lokal sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan alat medis mutakhir di RSUD Tripat. Ia menambahkan bahwa program proctorship ini bukan agenda tunggal, melainkan bagian dari cetak biru (blueprint) besar pemerintah untuk meratakan mutu pelayanan kesehatan di seluruh rumah sakit kabupaten/kota se-Provinsi NTB.
Di sisi lain, perwakilan RSJPD Harapan Kita Jakarta, Tri Hartono Rianto, menegaskan komitmennya untuk mengawal RSUD Tripat hingga benar-benar mencapai kemandirian pelayanan penuh. Kemitraan strategis ini dipastikan terus berjalan melalui pendampingan intensif bagi para tenaga medis lokal.
“Kasus cerebrovascular dan jantung menuntut presisi tingkat tinggi; kekeliruan kecil dalam hitungan detik bisa berdampak fatal bagi keselamatan pasien. Namun, tim medis RSUD Tripat hari ini telah membuktikan kompetensi mereka dengan sangat impresif. Berdasarkan performa nyata ini, kami optimistis rumah sakit ini segera siap mengoperasikan layanan intervensi secara mandiri dan aman,” urai Tri Hartono.
Direktur Utama RSUD Tripat, dr. H. Suriyadi, Sp.An, menggarisbawahi bahwa kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan modernisasi instrumen medis merupakan pilar interdependen yang tidak bisa ditawar dalam transformasi pelayanan publik. Tanpa sinkronisasi keduanya, investasi fasilitas kesehatan hanya akan menjadi pajangan tanpa dampak.
Kehadiran layanan ini, menurut dr. Suriyadi, secara fundamental merombak peta rujukan medis di Lombok Barat yang selama ini cenderung sentralistik dan membebani pasien dari segi pembiayaan serta waktu. Kehadiran layanan baru ini dinilai secara fundamental merombak peta rujukan medis di Lombok Barat yang selama ini sentralistik, sehingga mampu memangkas beban biaya dan waktu bagi pasien.
“Langkah ini adalah bentuk akselerasi nyata. Kami bersyukur, hambatan geografis dan birokrasi rujukan yang selama ini memaksa masyarakat mencari pengobatan ke luar daerah, kini bisa dipangkas. Baik untuk kebutuhan rawat jalan maupun rawat inap yang membutuhkan penanganan kritis, semuanya kini dapat diselesaikan secara komprehensif di Lombok Barat,” tegas dr. Suriyadi.
Di tengah tuntutan publik terhadap respons cepat tanggap darurat, ia mengakui bahwa grafik penyakit kardiovaskular di Lombok Barat terus bergerak naik. Kenyataan pahit ini menuntut RSUD Tripat untuk tidak sekadar mengoperasikan alat, melainkan melakukan transformasi radikal pada sistem penanganan pasien agar lebih presisi. Dengan mengawinkan kompetensi SDM hasil didikan rumah sakit rujukan nasional dan infrastruktur medis yang memadai, rumah sakit ini ditargetkan mampu mengeliminasi celah kesalahan dalam manajemen klinis penyakit kritis.
Dari aspek jaminan pembiayaan, manajemen memastikan masyarakat tidak perlu memikul kekhawatiran finansial. Bagi masyarakat rentan dan kurang mampu, seluruh skema pelayanan medis mutakhir ini telah diintegrasikan dengan program Universal Health Coverage (UHC) yang disubsidi penuh oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sebagai jaring pengaman sosial.
Inovasi klinis ini secara konkret berhasil mengamankan golden period waktu krusial penyelamatan penderita jantung dan stroke sekaligus mendesentralisasi sistem rujukan yang selama ini menumpuk di luar daerah. Kesiapan infrastruktur dan ketajaman performa medis langsung diuji melalui tindakan intervensi riil terhadap dua pasien yang disiarkan secara live streaming. Keberhasilan ini dibuktikan oleh ayah dari Aprilia, salah satu pasien yang mencatatkan pemulihan klinis signifikan dan langsung mampu berkomunikasi pascatindakan darurat tersebut.
“Apresiasi tertinggi untuk RSUD Tripat. Jika sebelumnya kami harus tertahan oleh panjangnya antrean rujukan di RSUP Provinsi NTB, keberadaan layanan lokal ini membuat ayah saya bisa dievakuasi dan ditangani secara instan,” tutur Aprilia dengan penuh haru.
