
Dampak El Nino kemarau panjang masih berlangsung (Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo)
Suara Giri Menang, Lombok Barat — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merilis prakiraan iklim terbaru yang menunjukkan bahwa musim kemarau panjang di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Sebanyak 93 persen wilayah NTB baru diprediksi memasuki awal musim hujan pada Desember. Hal ini menandakan adanya kemunduran jadwal musim hujan yang signifikan jika dibandingkan dengan pola klimatologis normal periode 1991–2020.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo, menjelaskan dalam konferensi pers di Lombok Barat bahwa 100 persen dari 27 Zona Musim (ZOM) di wilayah NTB dipastikan mengalami keterlambatan awal musim hujan.
“El Nino yang menguat turut memberikan pengaruh terhadap berlangsungnya musim kemarau di wilayah NTB,” ungkapnya, Rabu (30/9).
Dampak dari kondisi ini, menurut Nuga, adalah masa kering yang melorot lebih panjang dari batas normalnya. Mengingat dinamika atmosfer terkini yang terus dipantau BMKG, warga NTB pun diminta bersiap diri menghadapi situasi minim hujan ini sampai akhir tahun nanti.
“Kondisi ini menyebabkan musim kemarau diperkirakan masih berlangsung sampai Desember mendatang,” ucapnya.
Kemunduran musim hujan dan perpanjangan periode kering ini dipicu oleh fenomena El Nino yang terpantau sangat kuat. Kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan uap air di atmosfer secara drastis, sehingga awan hujan sulit terbentuk di atas wilayah NTB. Selain itu, angin Monsun Australia (angin timuran) yang bersifat kering masih mendominasi kawasan ini.
“Pengaruh angin timuran dan kondisi suhu muka laut di sekitar NTB ikut menyebabkan pasokan uap air berkurang,” ucapnya.
BMKG memetakan masuknya awal musim hujan periode 2026/2027 di NTB dalam tiga gelombang bertahap
Akhir November : Hanya sekitar 2 Zona Musim (ZOM NTB 1 dan ZOM NTB 10) di Pulau Lombok yang mulai diguyur hujan. Wilayah ini mencakup Kota Mataram, sebagian Lombok Barat, Lombok Utara, dan sebagian kecil Lombok Tengah.
Pertengahan Desember : Sebanyak 10 zona musim diperkirakan menyusul masuk ke musim hujan.
Akhir Desember : Sebanyak 15 zona musim sisanya baru akan memulai musim hujan. Ini mencakup sebagian besar wilayah Pulau Sumbawa seperti Bima, Dompu, dan Kabupaten Sumbawa.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi terhadap dampak turunan dari fenomena ini. Ancaman krisis air bersih dan kekeringan hidrologis diprediksi meningkat tajam akibat minimnya pasokan hujan di tengah durasi kemarau yang semakin panjang.
“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang lebih panjang, termasuk ancaman kekeringan dan kebakaran lahan maupun hutan,” ujarnya.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD NTB) saat ini telah menetapkan status darurat kekeringan di beberapa wilayah untuk menyalurkan bantuan air bersih dan logistik pangan. Di sisi lain, masyarakat dan pelaku sektor pertanian diimbau untuk segera menyesuaikan jadwal tanam, bijak mengelola persediaan air cadangan, serta mengantisipasi potensi banjir bandang saat curah hujan dengan intensitas tinggi tiba secara mendadak di akhir tahun nanti. (wni)
