
Antisipasi lonjakan penonton dan memastikan kelancaran mobilitas (Kadis Perhubungan M. Hendrayadi)
Suara Giri Menang — Arus kedatangan wisatawan menuju wilayah Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan menjelang perhelatan balap dunia, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika yang akan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026. Guna mengantisipasi lonjakan penonton dan memastikan kelancaran mobilitas, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mematangkan kesiapan infrastruktur, khususnya di kawasan pariwisata Senggigi.
Kepala Dinas Perhubungan Lobar, M. Hendrayadi, menjelaskan bahwa keterlibatan Dishub Lobar dalam pengamanan dan kelancaran arus lalu lintas perhelatan MotoGP difokuskan pada peran pemantauan wilayah bersama instansi lintas sektoral.
“Secra langsung kita hanya tergabung tim pemantau saja. Pihak provinsi sendiri telah membangun sejumlah pos terpadu guna mengamankan arus lalu lintas MotoGP, yang tersebar di beberapa titik strategis seperti kawasan Giri Menang Square (GMS), Senggigi, hingga area pelabuhan”,ujarnya, Kamis (1/10).
Perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada posko keamanan, melainkan juga pada kesiapan infrastruktur moda transportasi seperti halte bus di Senggigi. Proyek yang dikerjakan bersama oleh Dishub NTB dan BPTD ini, kata Hendrayadi, memanfaatkan fasilitas halte yang sebenarnya merupakan penunjang utama jalur transportasi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
“Memang kalau di Senggigi ada halte yang disiapkan oleh Dishub Provinsi dan bekerja sama dengan BPTD. Halte itu memang awalnya kan arahnya untuk KSPN, yang rute Senggigi – Sembalun. Nah, kalau besok mungkin ada perubahan rute saya tidak tahu, mungkin ada rute khusus Senggigi ke Mandalika,” ujarnya.
Terkait mobilitas wisatawan melalui pintu masuk pelabuhan di Lombok Barat menjelang ajang balap dunia tersebut, grafik kedatangan penumpang sudah mulai menunjukkan peningkatan. Kendati demikian, lonjakan tersebut sejauh ini masih bergerak secara bertahap dan dalam kondisi yang relatif stabil.
“Alhamdulillah cukup signifikan, cuma masih rata-rata, belum terlalu besar. Dan juga belum ada permintaan dari operator kapal untuk menambah trip, itu belum ada,” ucapnya.
Guna memperkuat konektivitas antarpulau, mobilitas wisatawan kini dipermudah dengan pembukaan jalur pelayaran baru oleh operator kapal cepat Gili Getaway. Rute pulang-pergi (PP) ini menghubungkan Lombok Barat, Senggigi, hingga kawasan Gili Indah di Lombok Utara. Menurut Hendrayadi, tambahan rute baru yang sudah mulai beroperasi sejak Kamis, 1 Oktober 2026 tersebut mencakup jalur Gili Gede, Senggigi, dan Trawangan.
Evaluasi pergerakan penumpang moda transportasi laut menunjukkan grafik pertumbuhan yang stabil. Belum terjadi akumulasi massa dalam skala besar, karena pergerakan penumpang diproyeksikan baru akan mencapai puncaknya pada H- beberapa hari menjelang event. Berdasarkan keterangan Hendrayadi, lalu lintas penyeberangan berjalan lancar dengan fluktuasi harian yang minim (berkisar 10–15 penumpang), sementara koordinasi antisipasi lonjakan difokuskan pada minggu depan.
Penyelenggaraan ajang internasional seperti MotoGP telah terbukti memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi wilayah di sekitar sirkuit. Manfaat ekonomi ini secara langsung dirasakan oleh sektor perhotelan, sekaligus memperkuat konektivitas antar-destinasi wisata di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Aksesibilitas yang semakin terintegrasi ini diharapkan mampu meningkatkan angka kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.
“Pasti ada dampaknya walaupun tidak secara langsung. Mudah-mudahan kapasitas hotel di Senggigi, terus transportasi oleh BPTD dan Dishub Provinsi disiapkan, ini pasti akan berdampak,” ujarnya.
Mengenai operasional koridor pelayaran baru Gili Gateway, Hendrayadi mengonfirmasi bahwa jalur tersebut dikembangkan sebagai bagian dari rute reguler. Orientasi utama dari pembukaan rute ini adalah optimalisasi aksesibilitas dan efisiensi mobilitas wisatawan menuju kawasan wisata Sekotong. Infrastruktur transportasi laut ini diproyeksikan mampu mengeliminasi kendala jarak dan durasi yang biasanya dihadapi wisatawan melalui moda transportasi darat.
Selain berfokus pada transportasi darat dan laut, koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi kemacetan di beberapa ruas jalan utama di Lombok Barat. Dinas Perhubungan menjadwalkan pembentukan titik pemantauan terpadu di beberapa area rawan kepadatan, seperti, Kawasan Pelabuhan Lembar, Bundaran Alun-Alun Giri Menang, Gerung dan Jalur Utama Wisata Senggigi.
Melalui persiapan matang dari sisi transportasi darat, laut, hingga skema pengamanan jalur, Lombok Barat siap menyokong kesuksesan gelaran MotoGP Mandalika sekaligus menangkap peluang geliat ekonomi dari tingginya okupansi hotel dan kunjungan wisatawan di kawasan Senggigi. (wni)
