
Suara Giri Menang – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini tengah memperkuat strategi penanggulangan kemiskinan dengan menyasar langsung keluarga yang berada pada kelompok kemiskinan ekstrem. Langkah intervensi ini diperketat menyusul rilis data terbaru yang menunjukkan angka kemiskinan di Lombok Barat saat ini berada di kisaran 11,90 persen.
Wakil Bupati Lombok Barat, Hj. Nurul Adha, mengungkapkan bahwa dari total persentase tersebut, masih terdapat ribuan warga yang masuk ke dalam kelompok rentan. Berdasarkan pemetaan wilayah geografis dan data kesejahteraan, Kecamatan Sekotong resmi dikategorikan sebagai wilayah yang paling rentan terhadap kemiskinan di Lombok Barat.
“Kalau yang ekstrem ini adalah keluarga yang tidak berdaya. Artinya, kalau kita berikan pemberdayaan saja, berat sekali bagi mereka untuk mengangkat diri. Karena itu, pendekatannya harus menyentuh kebutuhan dasar,” katanya menegaskan.
Menurut data kewilayahan, beberapa desa di Kecamatan Sekotong seperti Desa Buwun Mas dan Desa Sekotong Barat berada dalam zona rawan karena tingginya jumlah warga yang masuk dalam kategori desil bawah (kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah). Kurangnya stabilitas ekonomi serta kerentanan terhadap faktor musiman menjadi pemicu utama wilayah ini membutuhkan perhatian khusus.
“Pemerintah daerah berkomitmen untuk menajamkan program bantuan agar tepat sasaran, terutama untuk wilayah-wilayah kantong kemiskinan seperti Sekotong,” ujar Nurul Adha saat ditemui di ruang kerjanya.
Meski angka kemiskinan makro Lombok Barat secara umum memperlihatkan tren penurunan dibanding tahun-tahun pasca-pandemi lalu, ketimpangan antar-kecamatan masih menjadi tantangan nyata. Beban pengeluaran masyarakat didominasi oleh pemenuhan kebutuhan pangan dasar bahkan persoalan kemiskinan ekstrem di Lombok Barat tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Pemerintah daerah menyebut keluarga yang masuk kategori tersebut tersebar di seluruh kecamatan.
Namun, berdasarkan pembacaan terhadap data pemerintah, Kecamatan Sekotong menjadi salah satu wilayah yang memiliki jumlah keluarga miskin ekstrem paling banyak.
Nurul Adha menilai kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Jarak wilayah yang relatif jauh serta keterbatasan akses terhadap sejumlah fasilitas membuat intervensi pemerintah membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat bersama instansi terkait sedang menyusun formula program pemulihan ekonomi. Fokus utamanya mencakup, Pemberdayaan sektor unggulan lokal (pariwisata, kelautan, dan UMKM pesisir). Penyaluran bantuan sosial adaptif untuk menekan angka kemiskinan ekstrem ke level minimum. Peningkatan akses infrastruktur dasar dan air bersih, mengingat wilayah Sekotong dan sekitarnya juga rawan terdampak kekeringan meteorologis selama musim kemarau.
Melalui integrasi data Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi) dan pendekatan langsung ke tingkat desa, Pemkab Lombok Barat optimistis dapat mendongkrak daya beli sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah pinggiran. (Wni)
